RESULT ORIENTED DAN PROCESS ORIENTED DALAM KARIR DOSEN

Oleh: Herlawati dan Rahmadya Trias Handayanto

Pisahnya departemen pendidikan dengan riset dan pendidikan tinggi mengindikasikan bahwa profesi guru berbeda cukup signifikan dengan dosen. Sementara guru berfokus ke pengajaran, dosen berfokus ke tiga pilar utama yang dikenal dengan nama Tri Darma: riset, pengajaran dan pengabdian kepada masyarakat. Di sinilah letak kerumitan profesi dosen di tanah air dengan permasalahan-permasalahan yang menyertainya dari kasus guru yang merangkap dosen, dosen yang tidak pernah riset, dosen yang merangkap tata usaha, hingga kasus-kasus yang berbau kriminal seperti pemalsuan ijasah, plagiasi, dan lain-lain yang mencoreng nama institusi pendidikan. Tulisan singkat ini bermaksud mendiskusikan bersama terutama sesama karyawan dengan profesi dosen, misalnya mengapa selalu bermasalah dengan absen yang sering terlambat, tidak ada waktu untuk meneliti dan studi lanjut ke jenjang yang lebih tinggi (doktor), hingga masalah yang levelnya nasional yakni rendahnya kualitas pendidikan tinggi di Indonesia.

Di dalam suatu organisasi pasti ada divisi yang berfungsi sebagai pengatur strategi, dikenal dengan istilah white color, dan pelaksana yang mengerjakan tugas rutin harian yang dikenal dengan istilah blue color. Terlepas dari kedua fungsi itu, kedua jenis divisi itu tetaplah pekerja yang digaji oleh pemilik institusi baik swasta maupun negeri. Performa dari institusi itu tergantung dari kinerja para karyawannya. Tidak berbeda dengan buruh di pabrik, ada dua sisi yang agak bertentangan dimana pemilik institusi menginginkan upah sekecil mungkin sementara pekerja sebesar mungkin atau beban kerja yang ringan.

Beberapa rekan dosen beranggapan bahwa profesi dosen masuk dalam kategori white color yang lebih berorientasi pada hasil (result oriented). Alasannya adalah undang-undang guru dan dosen dimana dosen kinerjanya diukur berdasarkan konsep tri darma perguruan tinggi yaitu berapa banyak penelitian yang dihasilkan, berapa sks yang diajar selama satu semester dan berapa kali pengabdian terhadap masyarakat. Dalam memenuhi kewajiban tersebut, yang saat ini sudah tertata dengan baik lewat mekanisme sertifikasi dosen (serdos), dosen diharapkan tidak terganggu dengan masalah di luar tugas pokok tersebut misalnya pemasaran, ketatausahaan, bahkan merasa terganggu dengan kewajiban masuk tepat waktu yang saat ini banyak yang sudah menerapkan teknologi sidik jari (finger print). Mereka beranggapan sangatlah tidak adil dosen yang berprestasi baik di tri darma tetapi dianggap kalah kinerjanya oleh rekannya dari sisi absensi walaupun kurang berprestasi di tri darma. Bahkan surat peringatan kerap diterima akibat seringnya datang terlambat, berbeda dengan rekannya yang tepat waktu walaupun sejak absen masuk hingga pulang tidak begitu banyak kerjaan dosen yang dilakukannya, mengingat chatting, Facebook, ngerumpi dan sejenisnya tidak masuk dalam tri darma. Jika diteruskan dikhawatirkan para dosen akan berfokus dan beralih ke tipe blue color dengan fokus pada tugas rutinitas dan jika tidak kuat, kemungkinan besar keluar atau dipecat oleh institusi pendidikannya. Yang namanya riset, menulis, dan sejenisnya agak sulit jika dibatasi oleh ruang dan waktu (jam kerja), bagaimana mungkin berfikir dan menemukan jawaban penelitian harus dimulai dari jam kerja dan harus berhenti ketika jam pulang untuk dilanjutkan keesokan harinya.

Sementara di sisi pemilik dan pihak yang menggaji, prinsip ekonomi berlaku, bagaimana caranya dengan modal seminim mungkin menghasilkan keuntungan sebesar mungkin. Untuk universitas-universitas dengan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang baik seperti Jerman, Jepang, dan negara maju lainnya, modal yang dikeluarkan lewat upah yang besar terhadap dosen diimbangi oleh suntikan dana dari industri lewat riset. Tetapi jika SDM kurang memiliki kualitas di bidang riset, mau tidak mau fungsi pengajaran saja yang bisa dilakukan dan sangat mengandalkan dari jumlah mahasiswa yang kuliah di kampus tersebut yang jika kurang akan berpengaruh bagi pemilik kampus dalam memberikan upah kepada para dosen. Kalaupun sanggup, dosen tersebut harus mendapat pekerjaan tambahan di luar tri darma dan dengan demikian jam kerja akan sangat diperhatikan oleh manajemen yang ujung-ujungnya berfokus ke proses. Jangan heran jika ada yang menerapkan panca darma atau heksa darma.

Untuk menjawab mana yang lebih tepat diterapkan antara result oriented dan process oriented terhadap dosen ada baiknya berfikir realistis dengan mempelajari kondisi institusi yang bersangkutan. Jangankan kampus swasta, kampus negeri dengan kualitas SDM yang di atas rata-rata saja masih berjuang untuk menjadi kampus riset. Analisa strength, weakness, opportunity and treat (SWOT) perlu dilakukan baik terhadap institusi maupun tiap-tiap dosen. Terlalu memaksakan dosen melakukan riset terhadap tipe dosen yang memiliki skill khas tertentu tentu saja sangat berat. Lebih efektif fokus ke pelatihan agar lulusannya diminati industri karena cakap dan terampil dibanding memaksakan riset atau menulis yang mungkin malah menambah biaya untuk beli obat sakit kepala. Divisi SDM sebaiknya jeli dalam memantau kinerja para dosen dan tidak hanya berfokus ke pengukuran administratif yang mudah. Perhatian terhadap hasil capaian dan aspek intangible yang tidak berdampak langsung harus mulai diperhatikan. Hubungan dekat dosen dengan pemerintah, industri, atau organisasi profesi, jangan diabaikan walaupun secara pembukuan tidak memberikan keuntungan. Dosen yang menyadari kekurangannya ada baiknya segera meningkatkan kualitasnya dibanding hanya selalu menuntut upah yang tinggi terhadap institusi tempat dia bekerja. Walaupun syarat minimum tri darma sudah terpenuhi, evaluasi diri diperlukan, misalnya terlambat dalam mengajar, mengevaluasi, menguji, dan lain-lain ada baiknya diminimalkan walaupun sudah unggul dalam hal riset. Begitu pula kampus sebaiknya bijaksana dalam berinteraksi dengan dosen, profesi yang bercirikan logis dalam bertindak, termasuk dalam memilih institusi mana yang cocok untuk berkarir.

Akhirnya, ada baiknya kita berfikir positif terhadap kebijakan pemerintah dalam mengatur pendidikan tinggi, misalnya dosen harus minimal pascasarjana, rasio dosen dan mahasiswa yang ideal, tidak boleh dosen sekaligus guru dan lain-lain yang kesannya mempersulit. Pemerintah bermaksud memperkuat seluruh institusi pendidikan di tanah air, termasuk dosen-dosennya agar tangguh menghadapi era globalisasi dan masyarakat ekonomi asean (MEA) yang saat ini sudah resmi dimulai. Baik result oriented maupun process oriented dapat diterapkan demi kebaikan bersama dan tidak ada gunanya konflik antara dosen dengan institusi yang malah menguntungkan serbuan institusi asing ke tanah air dan jangan lupa, mencerdaskan bangsa harus tetap menjadi fokus utama.

Semoga Bermanfaat.

ANIMASI INTERAKTIF PEMBELAJARAN TAJWID PADA TAMAN QUR’AN ANAK (TQA) AL WASHILAH CIREBON

Abdul Kholis
STMIK Nusamandiri Jakarta
kholis12@gmail.com

Herlawati
STMIK Nusamandiri Jakarta
herlawati@nusamandiri.ac.id

Jurnal Teknik Komputer Vol. I No. 2, Agustus 2015 , ISSN:2442-2436

Abstract:

Media Limited cause children to become bored quickly, thereby reducing the child’s interest in learning. With the innovation and development of technology combined between text, images, audio, music, animated images the support each other, can cause a sense of fun and enthusiasm for learning. So the child’s motivation for learning will increase and not saturated and is expected to end up learning more. Animated interactive learning tajwid of this method will be a great learning fun and easy for both the teacher and the student. By learning more interactive, instructor would always required to be creative and innovative in seeking a breakthrough study.

Keyword:

Animasi Interaktif, Pembelajaran, Tajwid

Download This Paper

ANIMASI INTERAKTIF PENGENALAN PAKAIAN ADAT TRADISIONAL PADA SMP PGRI 1 BEKASI

Yugo Bhekti Utomo
STMIK Nusamandiri Jakarta
yugobekti@gmail.com

Herlawati
STMIK Nusamandiri Jakarta
herlawati@nusamandiri.ac.id

Erene Gernaria Sihombing
STMIK Nusamandiri Jakarta
erene.egs@nusamandiri.ac.id

Jurnal Teknik Komputer Vol. I No.1, Februari 2015 , ISSN:2442-2436

Abstract:

Interactive animation is a medium of learning is quite interesting for students. This is because learning how to use the animation is not as boring as learning in school just by paying attention to the teacher who was explaining to the class material. In this interactive animation writer tries to make the material introduction to traditional indigenous clothing intended for junior high school students, especially for grade 8. This animation was created to provide knowledge to the students about the role of traditional indigenous clothing in human life. It also can be a method of learning that is different from what is taught in schools. In this study the authors will use some of them, namely software Adobe Flash CS3 and Adobe Photoshop CS3. The results of the analysis show the learning process through interactive animated media have a big impact in improving students ‘understanding of the material and the student an introduction to the introduction of the traditional custom clothing, this is due to male and female students’ understanding of the explanation is better to use images, sound effects, and animations.

Keyword:

Animasi Interaktif, Media Pembelajaran, Adobe Flash CS6, Adobe Photoshop CS3.

Download This Paper

SISTEM PAKAR PENDETEKSIAN PERMASALAHAN KOMPUTER PADA PT. PASIFIK SATELIT NUSANTARA CIKARANG

Joko Dwi Hartanto
STMIK Nusamandiri Jakarta

dwi.tp1@gmail.com

Herlawati
STMIK Nusamandiri Jakarta

herlawati@nusamandiri.ac.id

Jurnal Teknik Komputer Vol. I No.1, Februari 2015 , ISSN:2442-2436

Abstract:

Almost every people in the business world use computers to do their work. The users usually only know how to operate a computer, while it is difficult for them to fix it every time the computer got a problem, although minor problems on the computer. Thus the need for a system that can help the user so for some minor issues that could be resolved with the assistance of the system. The simple idea based on the background is about how to create a system that can provide solutions to users in fixing the computer when the computer is in trouble. Model the system based on the results of the analysis. This modeling form of ERD (Entity Relationship Diagram), UML (United Modeling Langauge). At this stage search method is needed to draw conclusions from the data that has been entered by the user of the symptoms that occur, the method used is a forward chaining is a method in which the search starts from taking the facts first and then used to draw conclusions. The results of this study can be concluded that the expert system that made this can allow a user to resolve minor problems that often occur without the help of the helpdesk. Minor problems experienced user can be resolved over having to wait addressed by the helpdesk when it is busy.

Keyword:

Sistem Pakar, Forward Chaining, Helpdesk, Troubleshoot Komputer

Download This Paper

SIKAP DAN KEPUASAN KONSUMEN DENGAN MODEL FISHBEIN EXTENDED MENGGUNAKAN EXCEL

Herlawati
STMIK Nusamandiri Jakarta

herlawati@nusamandiri.ac.id

Jurnal Perspektif Vol. I No. 1, , ISSN:1411-8637

Abstract:

Walaupun banyak keputusan di bidang manajemen lebih didasarkan pada art (seni dan pengalaman), namun tidak sedikit peran science ikut membantu pengambilan keputusan yang tepat. Kemajuan teknologi informasi yang demikian pesat saat ini telah mengubah banyak hal dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk dalam bidang manajemen di banyak perusahaan. Komputer, baik itu unsur hardware ataupun software, dapat membantu mengolah data konsumen (responden) yang ada, dengan model – model yang relevan, untuk menghasilkan informasi yang membantu pengambilan keputusan di bidang manajemen, khususnya dalam pelayanan konsumen. Untuk mengetahui kepuasan konsumen secara detail, perusahaan pada umumnya akan melakukan survei, yang dapat dilakukan dalam skala kecil ataupun skala besar. Urutan kegiatan survei kepuasan konsumen adalah menentukan tujuan survey, sumber informasi bagi survei kepuasan konsumen, Menetapkan sejumlah atribut poduk, serta menetapkan instrumen dan metode pengukuran. Model – model pengukuran sikap dan kepuasan konsumen diantaranya adalah model ACSI (American Customer Satisfaction Index), model Sikap Fishbein, dan Model Sikap Fishbein Extended.

Keyword:

Excel, Sikap, Kepuasan, Fishbein Extended

Download This Paper

PENERAPAN INFORMATION TECHNOLOGY ETHICS DALAM PROSES BELAJAR MAHASISWA

Herlawati
STMIK Nusamandiri Jakarta
herlawati@nusamandiri.ac.id

Jurnal Cakrawala Vol. X No. 1, , ISSN:1411-8629

Abstract:

Many research on Information Technology (IT) Ethics for ethical guidance when students graduate or the technical delivery (asinkron or direct course). But in reality, sometimes we found confused students when implement IT ethic as a result of inconsistent thins when they learn. Ethics of copyright, for example, is the contrast in the library on campus copying without permission of books (most of the overseas issue). Or some professors who share module copyright campus when teaching at other colleges. Although the meaning of “in order to enlighten the people” but in terms of ethics of course that it violates. Most of this is happening due to the angle of view that distinguishes between the college campus with the professional world that sometimes allows things to happen on the campus ethical violation (the reason for the nations’) as long as not done the work (the professional world). Moreover, the number of industrial policies (such as Microsoft ®) that does cut the price of its software with a particular reason (with a certain purpose, such as the introduction and strengthening brand products). Up to reinforce the reasons that campuses (including schools) different from the world of professional and community. In this paper will be presented several arguments that break the way the world should be distinguished college and the work with the principles of competency.

Keyword:

IT Ethics, Competency Based Curriculum, E-learning

Download This Paper