MODEL TRANSPORTASI (SOLUSI OPTIMAL)- MODI (Modified Distribution Method)

PERTEMUAN 10. MODEL TRANSPORTASI (SOLUSI OPTIMAL)

 

Sumber:

Wijaya, Andi. 2012. Pengantar Riset Operasi. Edisi 2. Jakarta: Mitra Wacana media.

 

Metode MODI (Modified Distribution Method)

Menggunakan solusi awal dengan metode Biaya Terendah (Least Cost) dilakukan pengujian menggunakan solusi optimal metode MODI untuk memastikan apakah biaya transportasi tersebut telah minimum.

Sebelum dilakukan pengujian menggunakan solusi optimal, harus dipastikan tidak terdapat degenerasi dan redundansi.

Degenerasi dan redundansi maksudnya tidak terpenuhinya syarat pengujian bahwa sel yang terisi harus memenuhi syarat: m+n-1 (m = baris, n = kolom).

Pada degenerasi sel yg terisi kurang dari persyaratan yg ditentukan, sedangkan redundansi sel yg terisi melebihi dari persyaratan yang ditentukan.

Pada kasus ini tidak terjadi degenerasi maupun redundansi, Karena jumlah sel yang terisi adalah 5 dan memenuhi syarat (3+3-1 = 5). Dengan demikian dilakukan pengujian menggunakan solusi optimal.

 


 

Proses pengisian nilai indeks pada masing-masing baris dan kolom:

  1. Pengisian nilai indeks pertama kali dilakukan pada baris pertama dlm hal ini baris Jakarta dengan nilai 0, pengisian berikutnya menggunakan rumus: Ri + Kj = Cij
  2. Mengisi nilai indeks Bandung 10 à R1 + K2 = 0 + K2= 10
  3. Mengisi nilai indeks Sukabumi 12 à R1 + K3 = 0 + K3= 12
  4. Mengisi nilai indeks Bekasi dengan bantuan kolom Sukabumi 12 à R2 + K3 = R2 + 12 = 24
  5. Mengisi nilai indeks Cirebon dengan bantuan baris Bekasi 18 à R2 + K1 = 12 + K1 = 30
  6. Mengisi nilai indeks Tangerang dengan bantuan Kolom Cirebon – 12 à R3 + K1 = R3 + 18 = 6

     

Menghitung nilai pada sel-sel yang kosong dengan menggunakan rumus:

Iij = Cij – Ri – Kj

Sel-sel yang kosong:

Jakarta – Cirebon= 16 – 0 – 18 = – 2 (masih negative)

Bekasi – Bandung = 20 – 12 – 10 = – 2 (masih negative) (pilih salah satu)

Tangerang – Bandung = 18 – (- 12) – 10 = 20

Tangerang – Sukabumi = 20 – (-12) – 12 = 20

Terdapat dua tanda negative yang mempunyai nilai yang sama (-2), dapat dipilih salah satu missal dipilih sel Bekasi – Bandung, maka proses eksekusi pada sel tersebut adalah:

Terlihat Bekasi – Bandung masih bernilai negative maka dilakukan pergeseran sebagai berikut:


Sehingga tabel berubah menjadi:

 

Proses pengisian nilai indeks pada masing-masing baris dan kolom:

  1. Pengisian nilai indeks pertama kali dilakukan pada baris pertama dlm hal ini baris Jakarta dengan nilai 0, pengisian berikutnya menggunakan rumus: Ri + Kj = Cij
  2. Mengisi nilai indeks Bandung 10 à R1 + K2 = 0 + K2= 10
  3. Mengisi nilai indeks Sukabumi 12 à R1 + K3 = 0 + K3= 12
  4. Mengisi nilai indeks Bekasi dengan bantuan kolom Bandung 10 à R2 + K2 = R2 + 10 = 20
  5. Mengisi nilai indeks Cirebon dengan bantuan baris Bekasi 20 à R2 + K1 = 10 + K1 = 30
  6. Mengisi nilai indeks Tangerang dengan bantuan Kolom Cirebon – 14 à R3 + K1 = R3 + 20 = 6

     

Menghitung nilai pada sel-sel yang kosong dengan menggunakan rumus:

Iij = Cij – Ri – Kj

Sel-sel yang kosong:

Jakarta – Cirebon= 16 – 0 – 20 = – 4 (masih negative)

Bekasi – Sukabumi = 24 – 10 – 12 = 2

Tangerang – Bandung = 18 – (- 14) – 10 = 22

Tangerang – Sukabumi = 20 – (-14) – 12 = 22

Terlihat Jakarta – Cirebon masih bernilai negative maka dilakukan pergeseran sebagai berikut:

 


Sehingga tabel berubah menjadi:


 

Proses pengisian nilai indeks pada masing-masing baris dan kolom:

  1. Pengisian nilai indeks pertama kali dilakukan pada baris pertama dlm hal ini baris Jakarta dengan nilai 0, pengisian berikutnya menggunakan rumus: Ri + Kj = Cij
  2. Mengisi nilai indeks Cirebon 16 à R1 + K1 = 0 + K1= 16
  3. Mengisi nilai indeks Sukabumi 12 à R1 + K3 = 0 + K3= 12
  4. Mengisi nilai indeks Bekasi dengan bantuan kolom Cirebon 14 à R2 + K1 = R2 + 16 = 20
  5. Mengisi nilai indeks Bandung dengan bantuan baris Bekasi 6 à R2 + K2 = 14 + K2 = 20
  6. Mengisi nilai indeks Tangerang dengan bantuan Kolom Cirebon – 10 à R3 + K1 = R3 + 16 = 6

     

Menghitung nilai pada sel-sel yang kosong dengan menggunakan rumus:

Iij = Cij – Ri – Kj

Sel-sel yang kosong:

Jakarta – Bandung = 10 – 0 – 6 = 4

Bekasi – Sukabumi = 24 – 14 – 12 = – 2 (masih negative)

Tangerang – Bandung = 18 – (- 10) – 6 = 22

Tangerang – Sukabumi = 20 – (-10) – 12 = 18

Terlihat Bekasi – Sukabumi masih bernilai negative maka dilakukan pergeseran sebagai berikut:

 


Sehingga tabel berubah menjadi:

 

Proses pengisian nilai indeks pada masing-masing baris dan kolom:

  1. Pengisian nilai indeks pertama kali dilakukan pada baris pertama dlm hal ini baris Jakarta dengan nilai 0, pengisian berikutnya menggunakan rumus: Ri + Kj = Cij
  2. Mengisi nilai indeks Cirebon 16 à R1 + K1 = 0 + K1= 16
  3. Mengisi nilai indeks Sukabumi 12 à R1 + K3 = 0 + K3= 12
  4. Mengisi nilai indeks Bekasi dengan bantuan kolom Sukabumi 12 à R2 + K3 = R2 + 12 = 24
  5. Mengisi nilai indeks Bandung dengan bantuan baris Bekasi 8 à R2 + K2 = 12 + K2 = 20
  6. Mengisi nilai indeks Tangerang dengan bantuan Kolom Cirebon – 10 à R3 + K1 = R3 + 16 = 6

     

Menghitung nilai pada sel-sel yang kosong dengan menggunakan rumus:

Iij = Cij – Ri – Kj

Sel-sel yang kosong:

Jakarta – Bandung = 10 – 0 – 8 = 2

Bekasi – Cirebon = 30 – 12 – 16 = 2

Tangerang – Bandung = 18 – (- 10) – 8 = 20

Tangerang – Sukabumi = 20 – (-10) – 12 = 18

 

Kesimpulan:

Karena dari hasil perhitungan tidak ditemukan nilai negative (penghematan biaya) , maka proses eksekusi telah selesai. Alokasi produk dari pabrik ke daerah pemasaran menurut metode biaya terendah (least cost) yang diuji dengan metode MODI dan biaya transportasinya adalah: (dalam ribuan rupiah)


 

 

MODEL TRANSPORTASI (SOLUSI OPTIMAL) – STEPPING STONE RULE

PERTEMUAN 10. MODEL TRANSPORTASI (SOLUSI OPTIMAL)

Sumber:

Wijaya, Andi. 2012. Pengantar Riset Operasi. Edisi 2. Jakarta: Mitra Wacana media.

 

Diketahui:

Tabel Transportasi sebagai berikut:


 

Ditanyakan:

Tentukan total biaya transportasi dengan penentuan pemecahan optimal (solusi optimal) menggunakan:

  1. Metode Batu Loncatan (Stepping Stone Rule)

 

Penyelesaian:

Metode Batu Loncatan (Stepping Stone Rule)

Menggunakan solusi awal dengan metode Sudut Barat Laut dilakukan pengujian menggunakan solusi optimal metode batu loncatan untuk memastikan apakah biaya transportasi tersebut telah minimum.

Sebelum dilakukan pengujian menggunakan solusi optimal, harus dipastikan tidak terdapat degenerasi dan redundansi.

Degenerasi dan redundansi maksudnya tidak terpenuhinya syarat pengujian bahwa sel yang terisi harus memenuhi syarat: m+n-1 (m = baris, n = kolom).

Pada degenerasi sel yg terisi kurang dari persyaratan yg ditentukan, sedangkan redundansi sel yg terisi melebihi dari persyaratan yang ditentukan.

Pada kasus ini tidak terjadi degenerasi maupun redundansi, Karena jumlah sel yang terisi adalah 5 dan memenuhi syarat (3+3-1 = 5). Dengan demikian dilakukan pengujian menggunakan solusi optimal.

 


 

Sel-sel yang kosong:

Jakarta – Bandung = 10 – 16 + 30 – 20 = 4

Jakarta – Sukabumi = 12 – 16 + 30 – 20 + 18 – 20 = 4

Bekasi – Sukabumi = 24 – 20 + 18 – 20 = 2

Tangerang – Cirebon = 6 – 18 + 20 – 30 = – 22 (masih negative)

 

Terlihat Tangerang – Cirebon masih bernilai negative maka dilakukan pergeseran sebagai berikut:


Sehingga table berubah menjadi:

Sel-sel yang kosong:

Jakarta – Bandung = 10 – 16 + 30 – 20 = 4

Jakarta – Sukabumi = 12 – 16 + 6 – 20 = – 18 (masih negative)

Bekasi – Sukabumi = 24 – 30 + 6 – 20 = – 20 (masih negative) à dipilih karena nilai negative terbesar

Tangerang – Bandung = 18 – 20 + 30 – 6 = 22

 

Terlihat Bekasi – Sukabumi masih bernilai negative terbesar maka dilakukan pergeseran sebagai berikut:


Sehingga table berubah menjadi:

Sel-sel yang kosong:

Jakarta – Bandung = 10 – 16 + 6 – 20 + 24 – 20 = – 16 (masih negative)

Jakarta – Sukabumi = 12 – 16 + 6 – 20 = – 18 (masih negative) à dipilih karena nilai negative terbesar

Bekasi – Cirebon= 30 – 6 + 20 – 24 = 20

Tangerang – Bandung = 18 – 20 + 24 – 20 = 2

 

Terlihat Jakarta – Sukabumi masih bernilai negative terbesar maka dilakukan pergeseran sebagai berikut:


Sel-sel yang kosong:

Jakarta – Bandung = 10 – 20 + 24 – 12 = 2

Bekasi – Cirebon = 30 – 24 + 12 – 16 = 2

Tangerang – Bandung = 18 – 20 + 24 – 12 + 16 – 6 = 20

Tangerang – Sukabumi = 20 – 12 + 16 – 6 = 18

 

Kesimpulan:

Karena dari hasil perhitungan tidak ditemukan nilai negative (penghematan biaya) , maka proses eksekusi telah selesai. Alokasi produk dari pabrik ke daerah pemasaran menurut metode sudut barat laut (north west corner rule) yang diuji dengan metode batu loncatan (stepping stone) dan biaya transportasinya adalah: (dalam ribuan rupiah)


PERTEMUAN 10. MODEL TRANSPORTASI (SOLUSI OPTIMAL)

Sumber:

Wijaya, Andi. 2012. Pengantar Riset Operasi. Edisi 2. Jakarta: Mitra Wacana media.

 

 

Diketahui:

Tabel Transportasi sebagai berikut:


 

Ditanyakan:

Tentukan total biaya transportasi dengan penentuan pemecahan optimal (solusi optimal) menggunakan:

  1. Metode Batu Loncatan (Stepping Stone Rule)
  2. Metode MODI ( Modified Distribution Method)

Penyelesaian:

  1. Metode Batu Loncatan (Stepping Stone Rule)

    Menggunakan solusi awal dengan metode Sudut Barat Laut dilakukan pengujian menggunakan solusi optimal metode batu loncatan untuk memastikan apakah biaya transportasi tersebut telah minimum.

    Sebelum dilakukan pengujian menggunakan solusi optimal, harus dipastikan tidak terdapat degenerasi dan redundansi.

    Degenerasi dan redundansi maksudnya tidak terpenuhinya syarat pengujian bahwa sel yang terisi harus memenuhi syarat: m+n-1 (m = baris, n = kolom).

    Pada degenerasi sel yg terisi kurang dari persyaratan yg ditentukan, sedangkan redundansi sel yg terisi melebihi dari persyaratan yang ditentukan.

    Pada kasus ini tidak terjadi degenerasi maupun redundansi, Karena jumlah sel yang terisi adalah 5 dan memenuhi syarat (3+3-1 = 5). Dengan demikian dilakukan pengujian menggunakan solusi optimal.

     

 

Sel-sel yang kosong:

Jakarta – Bandung = 10 – 16 + 30 – 20 = 4

Jakarta – Sukabumi = 12 – 16 + 30 – 20 + 18 – 20 = 4

Bekasi – Sukabumi = 24 – 20 + 18 – 20 = 2

Tangerang – Cirebon = 6 – 18 + 20 – 30 = – 22 (masih negative)

 

Terlihat Tangerang – Cirebon masih bernilai negative maka dilakukan pergeseran sebagai berikut:

 


Sehingga table berubah menjadi:

Sel-sel yang kosong:

Jakarta – Bandung = 10 – 16 + 30 – 20 = 4

Jakarta – Sukabumi = 12 – 16 + 6 – 20 = – 18 (masih negative)

Bekasi – Sukabumi = 24 – 30 + 6 – 20 = – 20 (masih negative) à dipilih karena nilai negative terbesar

Tangerang – Bandung = 18 – 20 + 30 – 6 = 22

 

Terlihat Bekasi – Sukabumi masih bernilai negative terbesar maka dilakukan pergeseran sebagai berikut:


Sel-sel yang kosong:

Jakarta – Bandung = 10 – 16 + 6 – 20 + 24 – 20 = – 16 (masih negative)

Jakarta – Sukabumi = 12 – 16 + 6 – 20 = – 18 (masih negative) à dipilih karena nilai negative terbesar

Bekasi – Cirebon= 30 – 6 + 20 – 24 = 20

Tangerang – Bandung = 18 – 20 + 24 – 20 = 2

 

Terlihat Jakarta – Sukabumi masih bernilai negative terbesar maka dilakukan pergeseran sebagai berikut:



Sel-sel yang kosong:

Jakarta – Bandung = 10 – 20 + 24 – 12 = 2

Bekasi – Cirebon = 30 – 24 + 12 – 16 = 2

Tangerang – Bandung = 18 – 20 + 24 – 12 + 16 – 6 = 20

Tangerang – Sukabumi = 20 – 12 + 16 – 6 = 18

 

Kesimpulan:

Karena dari hasil perhitungan tidak ditemukan nilai negative (penghematan biaya) , maka proses eksekusi telah selesai. Alokasi produk dari pabrik ke daerah pemasaran menurut metode sudut barat laut (north west corner rule) yang diuji dengan metode batu loncatan (stepping stone) dan biaya transportasinya adalah: (dalam ribuan rupiah)


  1. Metode MODI (Modified Distribution Method)

    Menggunakan solusi awal dengan metode Biaya Terendah (Least Cost) dilakukan pengujian menggunakan solusi optimal metode MODI untuk memastikan apakah biaya transportasi tersebut telah minimum.

    Sebelum dilakukan pengujian menggunakan solusi optimal, harus dipastikan tidak terdapat degenerasi dan redundansi.

    Degenerasi dan redundansi maksudnya tidak terpenuhinya syarat pengujian bahwa sel yang terisi harus memenuhi syarat: m+n-1 (m = baris, n = kolom).

    Pada degenerasi sel yg terisi kurang dari persyaratan yg ditentukan, sedangkan redundansi sel yg terisi melebihi dari persyaratan yang ditentukan.

    Pada kasus ini tidak terjadi degenerasi maupun redundansi, Karena jumlah sel yang terisi adalah 5 dan memenuhi syarat (3+3-1 = 5). Dengan demikian dilakukan pengujian menggunakan solusi optimal.

     


     

Proses pengisian nilai indeks pada masing-masing baris dan kolom:

  1. Pengisian nilai indeks pertama kali dilakukan pada baris pertama dlm hal ini baris Jakarta dengan nilai 0, pengisian berikutnya menggunakan rumus: Ri + Kj = Cij
  2. Mengisi nilai indeks Bandung 10 à R1 + K2 = 0 + K2= 10
  3. Mengisi nilai indeks Sukabumi 12 à R1 + K3 = 0 + K3= 12
  4. Mengisi nilai indeks Bekasi dengan bantuan kolom Sukabumi 12 à R2 + K3 = R2 + 12 = 24
  5. Mengisi nilai indeks Cirebon dengan bantuan baris Bekasi 18 à R2 + K1 = 12 + K1 = 30
  6. Mengisi nilai indeks Tangerang dengan bantuan Kolom Cirebon – 12 à R3 + K1 = R3 + 18 = 6

     

Menghitung nilai pada sel-sel yang kosong dengan menggunakan rumus:

Iij = Cij – Ri – Kj

Sel-sel yang kosong:

Jakarta – Cirebon= 16 – 0 – 18 = – 2 (masih negative)

Bekasi – Bandung = 20 – 12 – 10 = – 2 (masih negative) (pilih salah satu)

Tangerang – Bandung = 18 – (- 12) – 10 = 20

Tangerang – Sukabumi = 20 – (-12) – 12 = 20

Terdapat dua tanda negative yang mempunyai nilai yang sama (-2), dapat dipilih salah satu missal dipilih sel Bekasi – Bandung, maka proses eksekusi pada sel tersebut adalah:

Terlihat Bekasi – Bandung masih bernilai negative maka dilakukan pergeseran sebagai berikut:

 



 

Proses pengisian nilai indeks pada masing-masing baris dan kolom:

  1. Pengisian nilai indeks pertama kali dilakukan pada baris pertama dlm hal ini baris Jakarta dengan nilai 0, pengisian berikutnya menggunakan rumus: Ri + Kj = Cij
  2. Mengisi nilai indeks Bandung 10 à R1 + K2 = 0 + K2= 10
  3. Mengisi nilai indeks Sukabumi 12 à R1 + K3 = 0 + K3= 12
  4. Mengisi nilai indeks Bekasi dengan bantuan kolom Bandung 10 à R2 + K2 = R2 + 10 = 20
  5. Mengisi nilai indeks Cirebon dengan bantuan baris Bekasi 20 à R2 + K1 = 10 + K1 = 30
  6. Mengisi nilai indeks Tangerang dengan bantuan Kolom Cirebon – 14 à R3 + K1 = R3 + 20 = 6

     

Menghitung nilai pada sel-sel yang kosong dengan menggunakan rumus:

Iij = Cij – Ri – Kj

Sel-sel yang kosong:

Jakarta – Cirebon= 16 – 0 – 20 = – 4 (masih negative)

Bekasi – Sukabumi = 24 – 10 – 12 = 2

Tangerang – Bandung = 18 – (- 14) – 10 = 22

Tangerang – Sukabumi = 20 – (-14) – 12 = 22

Terlihat Jakarta – Cirebon masih bernilai negative maka dilakukan pergeseran sebagai berikut:

 


 


 

Proses pengisian nilai indeks pada masing-masing baris dan kolom:

  1. Pengisian nilai indeks pertama kali dilakukan pada baris pertama dlm hal ini baris Jakarta dengan nilai 0, pengisian berikutnya menggunakan rumus: Ri + Kj = Cij
  2. Mengisi nilai indeks Cirebon 16 à R1 + K1 = 0 + K1= 16
  3. Mengisi nilai indeks Sukabumi 12 à R1 + K3 = 0 + K3= 12
  4. Mengisi nilai indeks Bekasi dengan bantuan kolom Cirebon 14 à R2 + K1 = R2 + 16 = 20
  5. Mengisi nilai indeks Bandung dengan bantuan baris Bekasi 6 à R2 + K2 = 14 + K2 = 20
  6. Mengisi nilai indeks Tangerang dengan bantuan Kolom Cirebon – 10 à R3 + K1 = R3 + 16 = 6

     

Menghitung nilai pada sel-sel yang kosong dengan menggunakan rumus:

Iij = Cij – Ri – Kj

Sel-sel yang kosong:

Jakarta – Bandung = 10 – 0 – 6 = 4

Bekasi – Sukabumi = 24 – 14 – 12 = – 2 (masih negative)

Tangerang – Bandung = 18 – (- 10) – 6 = 22

Tangerang – Sukabumi = 20 – (-10) – 12 = 18

Terlihat Bekasi – Sukabumi masih bernilai negative maka dilakukan pergeseran sebagai berikut:

 


 

 

Proses pengisian nilai indeks pada masing-masing baris dan kolom:

  1. Pengisian nilai indeks pertama kali dilakukan pada baris pertama dlm hal ini baris Jakarta dengan nilai 0, pengisian berikutnya menggunakan rumus: Ri + Kj = Cij
  2. Mengisi nilai indeks Cirebon 16 à R1 + K1 = 0 + K1= 16
  3. Mengisi nilai indeks Sukabumi 12 à R1 + K3 = 0 + K3= 12
  4. Mengisi nilai indeks Bekasi dengan bantuan kolom Sukabumi 12 à R2 + K3 = R2 + 12 = 24
  5. Mengisi nilai indeks Bandung dengan bantuan baris Bekasi 8 à R2 + K2 = 12 + K2 = 20
  6. Mengisi nilai indeks Tangerang dengan bantuan Kolom Cirebon – 10 à R3 + K1 = R3 + 16 = 6

     

Menghitung nilai pada sel-sel yang kosong dengan menggunakan rumus:

Iij = Cij – Ri – Kj

Sel-sel yang kosong:

Jakarta – Bandung = 10 – 0 – 8 = 2

Bekasi – Cirebon = 30 – 12 – 16 = 2

Tangerang – Bandung = 18 – (- 10) – 8 = 20

Tangerang – Sukabumi = 20 – (-10) – 12 = 18

 

Kesimpulan:

Karena dari hasil perhitungan tidak ditemukan nilai negative (penghematan biaya) , maka proses eksekusi telah selesai. Alokasi produk dari pabrik ke daerah pemasaran menurut metode biaya terendah (least cost) yang diuji dengan metode MODI dan biaya transportasinya adalah: (dalam ribuan rupiah)


 

 

 

Metode Transportasi dengan Solusi Awal

Model Transportasi adalah sebuah rencana transportasi dari sebuah barang dari sejumlah sumber ke sejumlah tujuan.

Data yang digunakan dalam model ini mencakup:

  • Tingkat penawaran di setiap sumber dan permintaan di setiap tujuan.
  • Biaya transportasi per unit barang dari setiap sumber ke setiap tujuan.

Diketahui:

Tabel Transportasi sebagai berikut:

        Tujuan

Sumber

Tujuan (pemasaran)

Kapasitas

(Supply)

Cirebon

Bandung

Sukabumi

Sumber (pabrik)

Jakarta

 

8

 

4

 

7

56

     

Bekasi

 

24

 

15

 

16

82

     

Tangerang

 

16

 

9

 

24

77

     

Permintaan (Demand)

102

72

41

215

Ditanyakan:

Tentukan total biaya transportasi dengan penentuan pemecahan awal (solusi awal) menggunakan:

  1. Metode Sudut Barat Laut (North West Corner Rule)

        Tujuan

Sumber

Tujuan (pemasaran)

Kapasitas

(Supply)

Cirebon

Bandung

Sukabumi

Sumber (pabrik)

Jakarta

56

8

xx

4

xx

7

56

     

Bekasi

46

24

36

15

xx

16

82

     

Tangerang

xx

16

36

9

41

24

77

     

Permintaan (Demand)

102

72

41

215

 

Biaya Transportasi = (56×8) + (46×24) + (36×15) + (36x 9) + (41×24) = 3400

  1. Metode Biaya Terendah (Least Cost Rule)

        Tujuan

Sumber

Tujuan (pemasaran)

Kapasitas

(Supply)

Cirebon

Bandung

Sukabumi

Sumber (pabrik)

Jakarta

xx

8

56

4

xx

7

56

     

Bekasi

41

24

xx

15

41

16

82

     

Tangerang

61

16

16

9

xx

24

77

     

Permintaan (Demand)

102

72

41

215

 

Biaya Transportasi = (56×4) + (16×9) + (41×24) + 61×16) + (41×16) = 2984

 

  1. Metode Aproksimasi Vogel (Vogel Approximation Method – VAM)

        Tujuan

Sumber

Tujuan (pemasaran)

Kapasitas

(Supply)

Selisih

Selisih

Cirebon

Bandung

Sukabumi

Baris 1

Baris 2

Sumber (pabrik)

Jakarta

15

8

xx

4

41

7

56

3

4

     

Bekasi

10

24

72

15

xx

16

82

1

9

         

Tangerang

77

16

xx

9

xx

24

77

7

7

         

Permintaan (Demand)

102

72

41

215

   

Selisih kolom 1

8

5

9

     

Selisih Kolom 2

8

5